Jumat, 20 Agustus 2010
Bagaimana Cara Menjadi Pengusaha?
Posted by Agustinus Brian at 20.56
Senin, 16 Agustus 2010
H.Bob Sadino "Pengusaha Berpakaian Dinas Celana Pendek"
Titik balik yang getir menimpa keluarga Bob Sadino. Bob rindu pulang kampung setelah merantau sembilan tahun di Amsterdam, Belanda dan Hamburg, Jerman, sejak tahun 1958. Ia membawa pulang istrinya, mengajaknya hidup serba kekurangan. Padahal mereka tadinya hidup mapan dengan gaji yang cukup besar.
Sekembalinya di tanah air, Bob bertekad tidak ingin lagi jadi karyawan yang diperintah atasan. Karena itu ia harus kerja apa saja untuk menghidupi diri sendiri dan istrinya. Ia pernah jadi sopir taksi. Mobilnya tabrakan dan hancur. Lantas beralih jadi kuli bangunan dengan upah harian Rp 100.
Suatu hari, temannya menyarankan Bob memelihara ayam untuk melawan depresi yang dialaminya. Bob tertarik. Ketika beternak ayam itulah muncul inspirasi berwirausaha. Bob memperhatikan kehidupan ayam-ayam ternaknya. Ia mendapat ilham, ayam saja bisa berjuang untuk hidup, tentu manusia pun juga bisa.
Sebagai peternak ayam, Bob dan istrinya, setiap hari menjual beberapa kilogram telor. Dalam tempo satu setengah tahun, ia dan istrinya memiliki banyak langganan, terutama orang asing, karena mereka fasih berbahasa Inggris. Bob dan istrinya tinggal di kawasan Kemang, Jakarta, di mana terdapat banyak menetap orang asing.
Tidak jarang pasangan tersebut dimaki pelanggan, babu orang asing sekalipun. Namun mereka mengaca pada diri sendiri, memperbaiki pelayanan. Perubahan drastis pun terjadi pada diri Bob, dari pribadi feodal menjadi pelayan. Setelah itu, lama kelamaan Bob yang berambut perak, menjadi pemilik tunggal super market (pasar swalayan) Kem Chicks. Ia selalu tampil sederhana dengan kemeja lengan pendek dan celana pendek.
Bisnis pasar swalayan Bob berkembang pesat, merambah ke agribisnis, khususnya holtikutura, mengelola kebun-kebun sayur mayur untuk konsumsi orang asing di Indonesia. Karena itu ia juga menjalin kerjasama dengan para petani di beberapa daerah.
Bob percaya bahwa setiap langkah sukses selalu diawali kegagalan demi kegagalan. Perjalanan wirausaha tidak semulus yang dikira. Ia dan istrinya sering jungkir balik. Baginya uang bukan yang nomor satu. Yang penting kemauan, komitmen, berani mencari dan menangkap peluang.
Di saat melakukan sesuatu pikiran seseorang berkembang, rencana tidak harus selalu baku dan kaku, yang ada pada diri seseorang adalah pengembangan dari apa yang telah ia lakukan. Kelemahan banyak orang, terlalu banyak mikir untuk membuat rencana sehingga ia tidak segera melangkah. “Yang paling penting tindakan,” kata Bob.
Keberhasilan Bob tidak terlepas dari ketidaktahuannya sehingga ia langsung terjun ke lapangan. Setelah jatuh bangun, Bob trampil dan menguasai bidangnya. Proses keberhasilan Bob berbeda dengan kelaziman, mestinya dimulai dari ilmu, kemudian praktik, lalu menjadi trampil dan profesional.
Menurut Bob, banyak orang yang memulai dari ilmu, berpikir dan bertindak serba canggih, arogan, karena merasa memiliki ilmu yang melebihi orang lain.
Sedangkan Bob selalu luwes terhadap pelanggan, mau mendengarkan saran dan keluhan pelanggan. Dengan sikap seperti itu Bob meraih simpati pelanggan dan mampu menciptakan pasar. Menurut Bob, kepuasan pelanggan akan menciptakan kepuasan diri sendiri. Karena itu ia selalu berusaha melayani pelanggan sebaik-baiknya.
Bob menempatkan perusahaannya seperti sebuah keluarga. Semua anggota keluarga Kem Chicks harus saling menghargai, tidak ada yang utama, semuanya punya fungsi dan kekuatan.
Anak Guru
Kembali ke tanah air tahun 1967, setelah bertahun-tahun di Eropa dengan pekerjaan terakhir sebagai karyawan Djakarta Lloyd di Amsterdam dan Hamburg, Bob, anak bungsu dari lima bersaudara, hanya punya satu tekad, bekerja mandiri. Ayahnya, Sadino, pria Solo yang jadi guru kepala di SMP dan SMA Tanjungkarang, meninggal dunia ketika Bob berusia 19.
Modal yang ia bawa dari Eropa, dua sedan Mercedes buatan tahun 1960-an. Satu ia jual untuk membeli sebidang tanah di Kemang, Jakarta Selatan. Ketika itu, kawasan Kemang sepi, masih terhampar sawah dan kebun. Sedangkan mobil satunya lagi ditaksikan, Bob sendiri sopirnya.
Suatu kali, mobil itu disewakan. Ternyata, bukan uang yang kembali, tetapi berita kecelakaan yang menghancurkan mobilnya. ”Hati saya ikut hancur,” kata Bob. Kehilangan sumber penghasilan, Bob lantas bekerja jadi kuli bangunan. Padahal, kalau ia mau, istrinya, Soelami Soejoed, yang berpengalaman sebagai sekretaris di luar negeri, bisa menyelamatkan keadaan. Tetapi, Bob bersikeras, ”Sayalah kepala keluarga. Saya yang harus mencari nafkah.”
Untuk menenangkan pikiran, Bob menerima pemberian 50 ekor ayam ras dari kenalannya, Sri Mulyono Herlambang. Dari sini Bob menanjak: Ia berhasil menjadi pemilik tunggal Kem Chicks dan pengusaha perladangan sayur sistem hidroponik. Lalu ada Kem Food, pabrik pengolahan daging di Pulogadung, dan sebuah ”warung” shaslik di Blok M, Kebayoran Baru, Jakarta. Catatan awal 1985 menunjukkan, rata-rata per bulan perusahaan Bob menjual 40 sampai 50 ton daging segar, 60 sampai 70 ton daging olahan, dan 100 ton sayuran segar.
”Saya hidup dari fantasi,” kata Bob menggambarkan keberhasilan usahanya. Ayah dua anak ini lalu memberi contoh satu hasil fantasinya, bisa menjual kangkung Rp 1.000 per kilogram. ”Di mana pun tidak ada orang jual kangkung dengan harga segitu,” kata Bob.
Om Bob, panggilan akrab bagi anak buahnya, tidak mau bergerak di luar bisnis makanan. Baginya, bidang yang ditekuninya sekarang tidak ada habis-habisnya. Karena itu ia tak ingin berkhayal yang macam-macam.
Haji yang berpenampilan nyentrik ini, penggemar berat musik klasik dan jazz. Saat-saat yang paling indah baginya, ketika shalat bersama istri dan dua anaknya.
Nama :
Bob Sadino
Lahir :
Tanjungkarang, Lampung, 9 Maret 1933
Agama :
Islam
Pendidikan :
-SD, Yogyakarta (1947)
-SMP, Jakarta (1950)
-SMA, Jakarta (1953)
Karir :
-Karyawan Unilever (1954-1955)
-Karyawan Djakarta Lloyd, Amsterdam dan Hamburg (1950-1967)
-Pemilik Tunggal Kem Chicks (supermarket) (1969-sekarang)
-Dirut PT Boga Catur Rata
-PT Kem Foods (pabrik sosis dan ham)
-PT Kem Farms (kebun sayur)
Alamat Rumah:
Jalan Al Ibadah II/12, Kemang, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan Telp: 793981
Alamat Kantor :
Kem Chicks Jalan Bangka Raya 86, Jakarta Selatan Telp: 793618
source : pengusahamuda.wordpress.com
Posted by Agustinus Brian at 21.30
3 Pegawai DKP yang Ditangkap Malaysia Akhirnya Bebas
Jakarta - Pada Jumat (13/8) lalu, 3 petugas Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) diamankan otoritas Malaysia. Namun kini ketiganya sudah di bawah perlindungan Konjen RI di Johor Baru, Malaysia."Alhamdulillah, 20 menit lalu saya mendapat kabar bahwa saudara-saudara kita, tiga pegawai DKP sudah di bawah perlindungan Konjen RI di Johor," ujar Menlu Marty Natalegawa sebelum upacara peringatan HUT ke-65 RI di Istana Merdeka, Jl Medan Medeka Utara, Jakarta, Selasa (17/8/2010).
Menurut Marty, kini tiga pegawai tersebut telah berkumpul dengan keluarganya. Bahkan sekarang ini mereka tengah mengikuti upacara peringatan HUT Kemerdekaan RI.
"Upaya diplomatik yang kita lakukan kemarin sudah mendatangkan hasil," ujar Marty yang dibalut jas berwarna hitam.
Sebelumnya Jumat (13/8) 3 petugas Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) diamankan kepolisian Malaysia pada pukul 21.00 WIB. Ketiganya ditangkap di perairan perbatasan Indonesia-Malaysia. Terdengar suara tembakan dalam penangkapan tersebut. Otoritas Indonesia juga mengamankan 7 nelayan Malaysia.
Posted by Agustinus Brian at 20.07 0 comments
Jumat, 06 Agustus 2010
Waralaba Pertanian Kok Belum Ada yang Melirik?
Ketua Umum Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) Anang Sukandar menjelaskan belum banyak penawaran waralaba pertanian di Indonesia karena sektor waralaba di Tanah Air masih asyik dengan penawaran waralaba sektor makanan dan minuman yang memang patut diakui sebagai bisnis yang tak ada matinya.
"Bidang yang belum disinggung misalnya sektor pembibitan pertanian, kita lebih banyak bisnis kuliner," kata Anang di JCC, Jumat (18/6/2010).
Anang menuturkan bahwa peluang waralaba sektor pertanian masih sangat berpeluang besar untuk digali. Ia mencontohkan hingga kini belum ada usaha waralaba yang membidangi pembibitan, budidaya bunga, peternakan ikan, unggas dan lain-lain.
Padahal kata Anang jenis waralaba ini bisa bersinergi pada bidang usaha hilir misalnya seorang pemilik waralaba pertanian/peternakan bisa dikombinasikan dengan waralaba restoran.
"Mestinya banyak usaha ini yang bisa berjalan," ucapnya.
Meskia ia mengakui untuk mencapai titik waralaba khususnya dibidang segmen tertentu akan memakan waktu untuk proses. Saat ini disektor makanan-minuman yang cukup laris saja masih banyak unit usaha 'waralaba' yang masih berstatus business opportunity (BO) alias belum teruji sebagai waralaba.
"Meski saat ini yang berkembang adalah BO. Usahanya belum memenuhi kriteria secara penuh. Polanya masih muncul lalu hilang," jelasnya.
Saat ini kata dia dari total kurang lebih 40.000 outlet waralaba dan BO yang ada, ternyata pertumbuhan BO lebih pesat dari waralaba sesungguhnya.
"Untuk tahun 2010 pertumbuhan BO bisa mencapai 10-12% sementara waralaba hanya 2-3%," imbuh Anang.
Anda tertarik menjadi pengusaha waralaba pertanian?
Source : www.detik.com
Posted by Agustinus Brian at 20.55 0 comments
Peruri Bakal Kebanjiran Order Cetak Uang Akibat Redenominasi
Jakarta - Redenominasi yang diwacanakan Bank Indonesia (BI) menuai banyak dukungan, tidak terkecuali Perum Percetakan Uang RI (Peruri). BUMN pencetak uang ini siap mengedarkan mata uang baru di tahun 2012.
Demikian disampaikan Direktur Utama Peruri Juniho Jahja saat ditemui dalam BUMN Award di Hotel Kempinski, Jalan MH Thamrin, Jakarta Jumat (6/8/2010) malam.
"Itu bagus, kan saat ini Peruri juga masih under capacity. Kita pun akan siap mengedarkan uang baru di 2012. Nanti uang lama ditarik secara perlahan-lahan," ungkapnya.
Ia menambahkan, wacana penyederhanaan nominal uang ini telah diperbincangan dengan BI sejak tahun 2009. Dan, lanjutnya, ide redenominasi bisa menggandakan permintaan cetak uang yang dipesan BI.
"Bisa naik dua kali lipat, dari yang saat ini under capacity," jelasnya.
Peruri pun tidak masalah, jika nantinya mencetak mata uang dengan nominal yang lebih kecil. Berbentuk uang kertas atau logam, Peruri sanggup menyediakan sesuai dengan order BI.
"Logam nggak masalah. Lagi pula nantinya, mata uang sen bisa juga dalam bentuk kertas juga kan. Sampai saat ini produksinya kita hanya 40% dari kapasitas. Untuk uang kertas kita bisa mencetak 7,2 miliar notes per lembar kertas," ucap Juniho.
BI memang berencana melakukan redenominasi rupiah karena uang pecahan Indonesia yang terbesar saat ini Rp 100.000. Uang rupiah tersebut mempunyai pecahan terbesar kedua di dunia, terbesar pertama adalah mata uang Vietnam yang mencetak 500.000 Dong. Namun tidak memperhitungkan negara Zimbabwe, negara tersebut pernah mencetak 100 miliar dolar Zimbabwe dalam satu lembar mata uang.
BI akan mulai melakukan sosialisasi redenominasi hingga 2012 dan dilanjutkan dengan masa transisi. Pada masa transisi digunakan dua rupiah, yakni memakai istilah rupiah lama dan rupiah hasil redenominasi yang disebut rupiah baru. BI menargetkan pada tahun 2022 proses redenominasi sudah tuntas.
Source : www.detik.com
Posted by Agustinus Brian at 20.35 0 comments
Kamis, 05 Agustus 2010
Telat Ngantor, Pegawai Pajak Kena Sanksi Rp 400 Ribu
Kepala Kantor Wilayah Ditjen Pajak Bali, Zulfikar Thahar menyatakan pegawai pajak tidak boleh terlambat, kecuali ada surat penugasan dari kantor. Setiap terlambat, lanjutnya, mereka akan dikenakan sanksi yaitu pemotongan remunerasinya sebesar Rp 400 ribu.
"Terlambat masuk jam 07.30, potong Rp 400 ribu per hari," tegasnya saat ditemui di sela Pertemuan Akuntansi se-ASEAN, Hotel Santika, Kuta, Bali, Kamis (5/8/2010).
Selain itu, Zulfikar menyatakan pihak Ditjen Pajak mewajibkan kepada para pegawai bagian pemeriksa untuk mengerjakan minimal 8 profil wajib pajak dalam sebulan. Di Bali, terdapat 8 Kantor Pelayanan Pajak (KPP) yang sampai saat ini sudah menyelesaikan sekitar 1.200 profil wajib pajak dari target 1.000 profil.
"Setiap KPP minimal 1.000, sekarang sudah 1.200 wajib pajak dibuat profilnya. Dengan begitu bisa mencakup 70% penerimaan di sana. Di kita ada 8 KPP madya yaitu Denpasar Timur, Barat, Badung Utara, Badung Selatan, Gianyar,Tabanan, dan Singaraja," ujarnya.
Dengan adanya kewajiban seperti itu, Zulfikar menyatakan tidak ada lagi pegawainya yang 'bermain-main' dalam bekerja. Apalagi dengan bantuan teknologi dengan program Multimedia Supercoridor dan Approweb.
"Di kantor saya, kita bisa lihat mereka melakukan apa saja dengan komputernya, apakah mereka buka link Luna Maya atau buka data wajib pajak, tapi tidak boleh buka data wajib pajak yang tidak di bawah pengawasannya. IP address-nya ketahuan," jelasnya.
Jika ketahuan macam-macam, Zulfikar menegaskan grade atau peringkat mereka akan diturunkan. Hal ini akan memengaruhi penerimaan remunerasi yang diterimanya.
"Kalau ketahuan, grade-nya kita kurangi. Kan mereka sudah punya indikator kinerja individual," pungkasnya.
Source : www.detik.com
Posted by Agustinus Brian at 04.23 0 comments
Kisah Memelas dan Aneka Jurus Mengemis
Jakarta - Seorang ibu berjalan gontai membawa dua gelas air mineral di tepi Jl Raya Bogor, daerah Cijantung, Jakarta Timur. Wajahnya seperti kebingungan. Tangannya menuntun anak kecil yang tampak kucel. Dalam panas terik, keringat di wajahnya diseka dengan ujung kaos lengan panjangnya yang berwajah merah.
Mereka menghampiri setiap orang yang berada di pinggir jalan. "Tolong, Pak. Saya kehabisan uang. Kasihan anak saya nggak bisa jalan jauh," kata ibu itu memelas, Rabu (4/8/2010).
Si ibu yang mengaku bernama Ana itu, mengaku dari Leuwiliang, Bogor, hendak mencari saudaranya ke Kramat Jati. Dia butuh uang pinjaman untuk biaya sekolah anaknya. Namun di Jakarta, dia malah tersasar. Lalu, seorang pria yang merasa iba, memberikan uang Rp 10.000 untuk biaya si ibu pulang ke Bogor.
"Saya mau pulang, Pak. Uangnya buat naik angkutan," kata perempuan berusia sekitar 40-an tahun ini.
Uang sudah diberi, tapi si ibu terap menyusuri jalan. Padahal di Cijantung, berseliweran aneka kendaraan umum tujuan Bogor. Seorang tukang ojek pun menyeletuk, "Wah, jangan kaget, Mas. Sudah biasa itu. Kita tertipu semua," kata Dedi, tukang ojek.
Menurut Dedi, seminggu menjelang bulan puasa Ramadan, banyak pengemis berdatangan ke Jakarta termasuk di Cijantung. Mereka datang dari berbagai daerah di sekitar Jakarta bahkan Pantura, Jawa Barat. Oleh karena itu pada saat ini pun banyak razia gelandangan dan pengemis dilakukan Pemprov DKI Jakarta.
Para pengemis ini punya berbagai jurus untuk mendapatkan uang dengan mudah. Ada yang mengemis seperti biasa, mengaku kehabisan ongkos, atau pura-pura meminta sumbangan. Bahkan ada juga yang memakai bayi, untuk membangkitkan rasa iba.
Di daerah Fatmawati, Jakarta Selatan, detikcom menemukan Suni, perempuan paruh baya sekitar 50-an tahun. Setiap tahun dia datang dari Indramayu, Jawa Barat ke Jakarta untuk mengemis menjelang Ramadan. Tahun ini dia datang lebih awal, agar bisa menghapalkan wilayah.
"Ya saya setiap tahun ke Jakarta, abis ngga punya uang buat keluarga di kampung," yang ditemui tengah menyusuri Jalan Raya Fatmawati, Cilandak Barat, Jakarta Selatan.
Suni lebih mengandalkan gaya mengemis konvensional, dengan menghampiri semua orang atau rumah untuk mengharapkan belas kasihan warga. Suni mengaku menjalani hidup seperti ini justru demi membantu membiayai hidup keluarganya di kampung. Ada banyak kisah yang muncul di balik kehidupan gelandangan dan pengemis atau gepeng di Ibu Kota yang menjamur menjelang Lebaran.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, menjelang Lebaran bisa disebut masa panen bagi gelandangan dan pengemis (gepeng). Mereka menyesaki perempatan jalan. Jumlah gepeng yang begitu banyak memunculkan dugaan ada gepeng teroganisir. Umumnya para gepeng berasal dari wilayah Pantai Utara Jawa seperti Indramayu, Kuningan, Cirebon, Jawa Barat dan Brebes, dan Tegal, Jawa Tengah.
Selain itu, banyak pula yang datang dari wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Gepeng yang menjamur ini tak pelak meresahkan warga Jakarta. Pihak keamanan pun sering kewalahan menertibkan. Bahkan tidak jarang panti sosial, tempat penampungan sementara gepeng yang terjaring, penuh sesak.
Jakarta memang diakui masih menjadi magnet bagi para penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) ini. Bahkan pihak Satpol PP DKI Jakarta bertekad akan membersihkan gepeng serta manusia gerobak.
"Kita segera akan melakukan penertiban para PMKS dan juga manusia gerobak yang
marak beroperasi saat bulan puasa," kata Kepala Satpol PP Pemrprov DKI Jakarta,
Effendi Anas, kepada detikcom beberapa waktu lalu.
Satpol PP juga akan mencari tempat-tempat yang biasa dijadikan pemukiman sementara PMKS ketika menyambangi Jakarta di bulan Ramadan. "Kita sudah indetifikasi tempat para PMKS tersebut biasa tinggal di Jakarta selama bulan Ramadan. Kita juga akan lakukan penertiban ke penampungan mereka," ujar dia.
Effendi juga mengaku, akan memproses secara hukum bagi para pengemis yang kedapatan menyewa anak balita dalam operasinya. "Kebanyakan begitu, menurut informasi yang kita dapat, agar anak ini diam banyak yang dibius. Ini yang akan kita tindak tegas juga, terutama yang memanfaatkan anak-anak di bawah umur untuk bekerja sebagai pengemis," ancamnya.
Effendi juga mengakatakan, telah berkordinasi dengan panti sosial di Pemalang, Jawa Tengah dan Indramayu, Jawa Barat, karena selama ini banyak PMKS yang tertangkap dari daerah-daerah tersebut. Mereka juga akan fokus mencari para kordinator gepeng ini. "Kami menduga praktik maraknya PMKS pada bulan puasa ada yang mengkoordinir. Kita akan berikan sanksi yang lebih berat untuk para koordinator PMKS," kata mantan Walikota Jakarta Utara ini.
source : www.detiknews.com
Posted by Agustinus Brian at 02.55 0 comments



