BLOGGER TEMPLATES AND MySpace 1.0 Layouts »

Jumat, 20 Agustus 2010

Bagaimana Cara Menjadi Pengusaha?


Akhir-akhir ini kecenderungan untuk menjadi pengusaha terasa meningkat ditandai dengan adanya berbagai pelatihan dan munculnya berbagai lembaga yang menyediakan diri untuk mendorong dan melatih seseorang menjadi pengusaha.
Hal ini merupakan perkembangan yang sangat menggembirakan. Semakin banyak pengusaha, maka semakin banyak lapangan kerja yang tersedia dan semakin banyak pengangguran yang bisa diserap. Saat ini pengangguran di Indonesia telah mencapai angka 11 juta. Jika kita asumsikan setiap usaha merekrut setidaknya 2 pegawai, maka jika tumbuh 1 juta pengusaha, akan tersedia 2 juta lapangan kerja. Dengan adanya pengusaha, pemerintah akan terbantu untuk menyediakan lapangan kerja. Kita tahu bahwa pemerintah juga memiliki keterbatasan. Munculnya pengusaha akan sangat membantu pemerintah.
Dengan tersedianya lapangan kerja, maka daya beli masyarakat akan meningkat dan pada akhirnya mengurangi angka kemiskinan. Saat ini kita masih memiliki 40 juta rakyat miskin, sebuah jumlah yang sangat besar. Jika 1 pekerja menghidupi 1 istri dan 1 anak, maka setidaknya 3 juta orang tertolong dengan hadirnya 1 pengusaha. Oleh karena itu, jumlah pengusaha harus ditingkatkan lagi agar semakin banyak orang tertolong.
Pada sisi lain, pengusaha juga merupakan penyumbang pajak bagi pemerintah. Sebagaimana diketahui, APBN kita 70 % lebih dibiayai oleh pajak. Jika jumlah pengusaha semakin banyak maka, jumlah penerimaan negara akan makin meningkat dan lebih banyak yang bisa dilakukan pemerintah untuk masyarakatnya.
Bagi pengusaha sendiri, seperti yang saya rasakan, lebih banyak yang bisa saya raih daripada saat dulu masih menjadi karyawan. Tulisan ini akan membantu para pembaca yang ingin mengetahui bagaimana caranya menjadi pengusaha.
Pertama yang harus dilakukan adalah mengatasi rasa takut menjadi pengusaha. Umumnya orang enggan menjadi pengusaha karena takut akan bankrut, takut tertipu dan lain-lain. Intinya takut akan resiko yang akan dihadapi. Padahal sebenarnya, apapun yang kita lakukan pada dasarnya beresiko. Sebagai contoh: kita menyeberang jalan, tentu ada resiko tertabrak. Sebagai orang yang dikaruniai akal, tentu kita tidak akan menyeberang sembarangan. Begitu pula dengan menjadi pengusaha, resiko bisa kita minimalkan dengan manajemen yang baik. Jika kita tidak sanggup menanggung resiko besar, kita bisa memilih resiko yang lebih kecil. Dan memang lebih baik memulai dari sesuatu yang kecil
Yang kedua adalah mengenai modal. Banyak orang batal menjadi pengusaha karena tidak memiliki modal. Sesungguhnya modal itu penting tapi bukan yang utama. Yang utama adalah ide. Uang berapapun tidak akan menghasilkan keuntungan jika tidak memiliki ide. Saya bisa memberikan kepada Anda uang 1 milyar hari ini, tetapi jika Anda tidak punya ide usaha, maka uang itu akan habis pelan atau cepat. Sebaliknya jika seseorang memiliki ide, maka uang akan datang dengan sendirinya. Banyak pengusaha yang memulai tanpa modal sama-sekali, dan pada akhirnya perbankan berebut menawarkan modal kepadanya.
Untuk memulai usaha, sekali lagi bukan modal uang yang dibutuhkan. Pilihlah usaha yang tidak membutuhkan uang untuk memulainya. Kita bisa belajar dari para pedagang yang menjual cash tetapi membeli dengan bayar di belakang. Jadi tidak ada modal uang. Jika memang membutuhkan uang, sementara Anda tidak memiliki uang, pakailah uang orang lain. Cukup sederhana. Masalahnya tinggal bagaimana Anda menggunakan ‘modal’ yang diberikan Tuhan, tubuh dan akal Anda untuk memakai uang orang lain.
Modal yang kedua adalah keberanian. Mulai dari sekarang, beranikan diri Anda untuk bermimpi. Mungkin ini agak aneh, tetapi dunia sudah membuktikan bahwa banyak penemuan ilmiah berdasarkan mimpi dan khayalan. Mobil-mobil sekarang ini berasal dari khayalan masa kecil. Ketika mimpi dan khayalan terwujud, kesuksesan sudah menanti di depan mata.
Selanjutnya, beranilah berbeda. Ditengah pasar yang kompetitif, menjadi beda adalah hal yang penting. Jika Anda membuat sesuatu yang sama dengan kompetitor Anda, maka produk atau jasa Anda peluangnya berbagi dengan kompetitor Anda. Sesuatu yang berbeda adalah nilai tambah. Dengan berbeda, keuntungan akan lebih besar. Lihatlah sekeliling, apa yang menjadi masalah atau kebutuhan di sekitar Anda. Dengan demikian Anda akan memahami pasar sebelum meluncurkan produk atau jasa.
Jika Anda sulit menemukan sebuah bisnis yang benar-benar baru, tidak perlu kecil hati karena Anda bisa memilih bisnis yang masih memiliki prospek pertumbuhan di masa mendatang. Salah satunya adalah bisnis di sektor telekomunikasi. Anda tidak perlu berpikir untuk mendirikan operator baru karena memang bukan itu ‘mainan’ yang tepat untuk pemula, namun lihatlah rantai bisnis telekomunikasi dari hulu sampai hilir. Lihat juga bisnis yang terkait dengan sektor telekomunikasi ini, karena sesungguhnya mata rantai bisnis ini sangat panjang.
Selanjutnya siapkan keberanian untuk memulai. Makin cepat akan makin baik. Ibarat antrian, yang lebih dulu akan mendapatkan kesempatan lebih dulu. Buanglah keraguan Anda, karena jika Anda selalu ragu-ragu, maka Anda tidak akan pernah memulai, dan Anda tidak tahu apakah Anda akan berhasil atau gagal. Jika tidak pernah memulai, maka Anda tidak bisa belajar bagaimana menghindari kegagalan dan Anda juga sekaligus tidak pernah mengalami kesuksesan. Anda hanya akan terus berpikir, tanpa pernah mencoba untuk melakukan yang Anda pikirkan. Seorang senior kami di HIPMI, Saudara Purdie E. Chandra yang memiliki Entrepreneur College memiliki sebuah metode memulai yang sederhana. Kita tidak usah berpikir macam-macam, kita lakukan saja semudah kita buang air di WC. Kita tidak pernah memikirkan bagaimana cara memasuki WC, kita juga tidak pernah memikirkan bagaimana cara buang air, apakah dengan ritme atau tidak. Begitu saja terjadi dan selesai. Kita sukses buang air. Kita tidak pernah memikirkan apakah kita akan gagal dalam buang air, kan? Jika kita gagal buang air, kita tinggal makan pepaya. Gitu aja koq repot?
Kalaupun ditengah perjalanan ada kegagalan, itu merupakan hal yang sangat biasa. Dengan demikian kita memiliki pengalaman, anggap saja hal itu merupakan biaya sekolah. Lebih baik kita gagal di awal daripada gagal di akhir. Pendiri dan pemilik KFC, telah gagal 19 kali untuk meyakinkan bahwa ayam gorengnya enak dan laku sebelum akhirnya menemui jalan suksesnya. Begitu juga Puspo Wardoyo gagal di tempat asalnya dan memulai usaha Ayam Bakar Wong Solo di Medan.
Jika kita belum memiliki pengalaman saat memulai usaha, merupakan sesuatu yang wajar. Pengalaman akan didapatkan seiring perjalanan usaha. Tidak ada seseorang yang tiba-tiba ahli dalam bidang apapun, semuanya melalui proses belajar. Sayangnya menjadi pengusaha tidak ada sekolahnya, sehingga trial and error menjadi salah satu metode yang paling sering digunakan. Jika Anda lulus maka kesuksesan yang Anda raih, jika belum maka kesuksesan Anda akan tertunda. Kesuksesan seorang pengusaha ditentukan oleh berapa kali ia lebih banyak bangun dari kegagalan.
Jika sampai disini, masih ada keraguan untuk memulai usaha, saya khawatir Anda belum memiliki mindset seorang pengusaha. Mindset adalah pola pikir. Seorang pengusaha melihat kendala sebagai peluang. Ketika orang-orang perkotaan memiliki budaya malas dan memiliki waktu terbatas untuk mencuci, seorang pengusaha mendirikan usaha laundry. Dengan mindset ini, seorang pengusaha bisa struggle dan survive. Mulai dari sekarang rubahlah mindset Anda. Jika mindset ini sudah terbangun, maka Anda akan memiliki banyak akal, berpikir tidak linier dan mampu mengatasi segala masalah.
Ada pameo, lebih baik menjadi kepala semut daripada ekor gajah. Dengan menjadi pengusaha, kita menjadi kepala, bukan ekor. Apakah kemudian badan kita besar atau kecil, tentu tergantung bagaimana kita mengelola usaha kita. Dengan makin majunya ilmu managemen, makin mudah mengelola manajemen perusahaan. Jadi beranikan diri Anda menjadi kepala.

Source : Pengusahamuda.wordpress.com

Senin, 16 Agustus 2010

H.Bob Sadino "Pengusaha Berpakaian Dinas Celana Pendek"

Pria berpakaian ”dinas” celana pendek jin dan kemeja lengan pendek yang ujung lengannya tidak dijahit, ini adalah salah satu sosok entrepreneur sukses yang memulai usahanya benar-benar dari bawah dan bukan berasal dari keluarga wirausaha. Pendiri dan pemilik tunggal Kem Chicks (supermarket), ini mantan sopir taksi dan karyawan Unilever yang kemudian menjadi pengusaha sukses.
Titik balik yang getir menimpa keluarga Bob Sadino. Bob rindu pulang kampung setelah merantau sembilan tahun di Amsterdam, Belanda dan Hamburg, Jerman, sejak tahun 1958. Ia membawa pulang istrinya, mengajaknya hidup serba kekurangan. Padahal mereka tadinya hidup mapan dengan gaji yang cukup besar.
Sekembalinya di tanah air, Bob bertekad tidak ingin lagi jadi karyawan yang diperintah atasan. Karena itu ia harus kerja apa saja untuk menghidupi diri sendiri dan istrinya. Ia pernah jadi sopir taksi. Mobilnya tabrakan dan hancur. Lantas beralih jadi kuli bangunan dengan upah harian Rp 100.
Suatu hari, temannya menyarankan Bob memelihara ayam untuk melawan depresi yang dialaminya. Bob tertarik. Ketika beternak ayam itulah muncul inspirasi berwirausaha. Bob memperhatikan kehidupan ayam-ayam ternaknya. Ia mendapat ilham, ayam saja bisa berjuang untuk hidup, tentu manusia pun juga bisa.
Sebagai peternak ayam, Bob dan istrinya, setiap hari menjual beberapa kilogram telor. Dalam tempo satu setengah tahun, ia dan istrinya memiliki banyak langganan, terutama orang asing, karena mereka fasih berbahasa Inggris. Bob dan istrinya tinggal di kawasan Kemang, Jakarta, di mana terdapat banyak menetap orang asing.
Tidak jarang pasangan tersebut dimaki pelanggan, babu orang asing sekalipun. Namun mereka mengaca pada diri sendiri, memperbaiki pelayanan. Perubahan drastis pun terjadi pada diri Bob, dari pribadi feodal menjadi pelayan. Setelah itu, lama kelamaan Bob yang berambut perak, menjadi pemilik tunggal super market (pasar swalayan) Kem Chicks. Ia selalu tampil sederhana dengan kemeja lengan pendek dan celana pendek.
Bisnis pasar swalayan Bob berkembang pesat, merambah ke agribisnis, khususnya holtikutura, mengelola kebun-kebun sayur mayur untuk konsumsi orang asing di Indonesia. Karena itu ia juga menjalin kerjasama dengan para petani di beberapa daerah.
Bob percaya bahwa setiap langkah sukses selalu diawali kegagalan demi kegagalan. Perjalanan wirausaha tidak semulus yang dikira. Ia dan istrinya sering jungkir balik. Baginya uang bukan yang nomor satu. Yang penting kemauan, komitmen, berani mencari dan menangkap peluang.
Di saat melakukan sesuatu pikiran seseorang berkembang, rencana tidak harus selalu baku dan kaku, yang ada pada diri seseorang adalah pengembangan dari apa yang telah ia lakukan. Kelemahan banyak orang, terlalu banyak mikir untuk membuat rencana sehingga ia tidak segera melangkah. “Yang paling penting tindakan,” kata Bob.
Keberhasilan Bob tidak terlepas dari ketidaktahuannya sehingga ia langsung terjun ke lapangan. Setelah jatuh bangun, Bob trampil dan menguasai bidangnya. Proses keberhasilan Bob berbeda dengan kelaziman, mestinya dimulai dari ilmu, kemudian praktik, lalu menjadi trampil dan profesional.
Menurut Bob, banyak orang yang memulai dari ilmu, berpikir dan bertindak serba canggih, arogan, karena merasa memiliki ilmu yang melebihi orang lain.
Sedangkan Bob selalu luwes terhadap pelanggan, mau mendengarkan saran dan keluhan pelanggan. Dengan sikap seperti itu Bob meraih simpati pelanggan dan mampu menciptakan pasar. Menurut Bob, kepuasan pelanggan akan menciptakan kepuasan diri sendiri. Karena itu ia selalu berusaha melayani pelanggan sebaik-baiknya.
Bob menempatkan perusahaannya seperti sebuah keluarga. Semua anggota keluarga Kem Chicks harus saling menghargai, tidak ada yang utama, semuanya punya fungsi dan kekuatan.
Anak Guru

Kembali ke tanah air tahun 1967, setelah bertahun-tahun di Eropa dengan pekerjaan terakhir sebagai karyawan Djakarta Lloyd di Amsterdam dan Hamburg, Bob, anak bungsu dari lima bersaudara, hanya punya satu tekad, bekerja mandiri. Ayahnya, Sadino, pria Solo yang jadi guru kepala di SMP dan SMA Tanjungkarang, meninggal dunia ketika Bob berusia 19.
Modal yang ia bawa dari Eropa, dua sedan Mercedes buatan tahun 1960-an. Satu ia jual untuk membeli sebidang tanah di Kemang, Jakarta Selatan. Ketika itu, kawasan Kemang sepi, masih terhampar sawah dan kebun. Sedangkan mobil satunya lagi ditaksikan, Bob sendiri sopirnya.
Suatu kali, mobil itu disewakan. Ternyata, bukan uang yang kembali, tetapi berita kecelakaan yang menghancurkan mobilnya. ”Hati saya ikut hancur,” kata Bob. Kehilangan sumber penghasilan, Bob lantas bekerja jadi kuli bangunan. Padahal, kalau ia mau, istrinya, Soelami Soejoed, yang berpengalaman sebagai sekretaris di luar negeri, bisa menyelamatkan keadaan. Tetapi, Bob bersikeras, ”Sayalah kepala keluarga. Saya yang harus mencari nafkah.”
Untuk menenangkan pikiran, Bob menerima pemberian 50 ekor ayam ras dari kenalannya, Sri Mulyono Herlambang. Dari sini Bob menanjak: Ia berhasil menjadi pemilik tunggal Kem Chicks dan pengusaha perladangan sayur sistem hidroponik. Lalu ada Kem Food, pabrik pengolahan daging di Pulogadung, dan sebuah ”warung” shaslik di Blok M, Kebayoran Baru, Jakarta. Catatan awal 1985 menunjukkan, rata-rata per bulan perusahaan Bob menjual 40 sampai 50 ton daging segar, 60 sampai 70 ton daging olahan, dan 100 ton sayuran segar.
”Saya hidup dari fantasi,” kata Bob menggambarkan keberhasilan usahanya. Ayah dua anak ini lalu memberi contoh satu hasil fantasinya, bisa menjual kangkung Rp 1.000 per kilogram. ”Di mana pun tidak ada orang jual kangkung dengan harga segitu,” kata Bob.
Om Bob, panggilan akrab bagi anak buahnya, tidak mau bergerak di luar bisnis makanan. Baginya, bidang yang ditekuninya sekarang tidak ada habis-habisnya. Karena itu ia tak ingin berkhayal yang macam-macam.
Haji yang berpenampilan nyentrik ini, penggemar berat musik klasik dan jazz. Saat-saat yang paling indah baginya, ketika shalat bersama istri dan dua anaknya.
Nama :
Bob Sadino
Lahir :
Tanjungkarang, Lampung, 9 Maret 1933
Agama :
Islam
Pendidikan :
-SD, Yogyakarta (1947)
-SMP, Jakarta (1950)
-SMA, Jakarta (1953)
Karir :
-Karyawan Unilever (1954-1955)
-Karyawan Djakarta Lloyd, Amsterdam dan Hamburg (1950-1967)
-Pemilik Tunggal Kem Chicks (supermarket) (1969-sekarang)
-Dirut PT Boga Catur Rata
-PT Kem Foods (pabrik sosis dan ham)
-PT Kem Farms (kebun sayur)
Alamat Rumah:
Jalan Al Ibadah II/12, Kemang, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan Telp: 793981
Alamat Kantor :
Kem Chicks Jalan Bangka Raya 86, Jakarta Selatan Telp: 793618

source : pengusahamuda.wordpress.com

3 Pegawai DKP yang Ditangkap Malaysia Akhirnya Bebas


Jumat, 06 Agustus 2010

Waralaba Pertanian Kok Belum Ada yang Melirik?

Jakarta - Waralaba sektor pertanian hingga saat ini belum banyak ditawarkan oleh para pelaku usaha waralaba. Padahal sektor waralaba pertanian cukup menggiurkan.

Ketua Umum Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) Anang Sukandar menjelaskan belum banyak penawaran waralaba pertanian di Indonesia karena sektor waralaba di Tanah Air masih asyik dengan penawaran waralaba sektor makanan dan minuman yang memang patut diakui sebagai  bisnis yang tak ada matinya.

"Bidang yang belum disinggung misalnya sektor pembibitan pertanian, kita lebih banyak bisnis kuliner," kata Anang di JCC, Jumat (18/6/2010).

Anang menuturkan bahwa peluang waralaba sektor pertanian masih sangat berpeluang besar untuk digali. Ia mencontohkan hingga kini belum ada usaha waralaba yang membidangi pembibitan, budidaya bunga, peternakan ikan, unggas dan lain-lain.

Padahal kata Anang jenis waralaba ini bisa bersinergi pada bidang usaha hilir misalnya seorang pemilik waralaba pertanian/peternakan bisa dikombinasikan dengan waralaba restoran.

"Mestinya banyak usaha ini yang bisa berjalan," ucapnya.

Meskia ia mengakui untuk mencapai titik waralaba khususnya dibidang segmen tertentu akan memakan waktu untuk proses. Saat ini disektor makanan-minuman yang cukup laris saja masih banyak unit usaha 'waralaba' yang masih berstatus business opportunity (BO) alias belum teruji sebagai waralaba.

"Meski saat ini yang berkembang adalah BO. Usahanya belum memenuhi kriteria secara penuh. Polanya masih muncul lalu hilang," jelasnya.

Saat ini kata dia dari total kurang lebih 40.000 outlet waralaba dan BO yang ada, ternyata pertumbuhan BO lebih pesat dari waralaba sesungguhnya.

"Untuk tahun 2010 pertumbuhan BO bisa mencapai 10-12% sementara waralaba hanya 2-3%," imbuh Anang.

Anda tertarik menjadi pengusaha waralaba pertanian?

Source : www.detik.com

Peruri Bakal Kebanjiran Order Cetak Uang Akibat Redenominasi

Jakarta - Redenominasi yang diwacanakan Bank Indonesia (BI) menuai banyak dukungan, tidak terkecuali Perum Percetakan Uang RI (Peruri). BUMN pencetak uang ini siap mengedarkan mata uang baru di tahun 2012.

Demikian disampaikan Direktur Utama Peruri Juniho Jahja saat ditemui dalam BUMN Award di Hotel Kempinski, Jalan MH Thamrin, Jakarta Jumat (6/8/2010) malam.

"Itu bagus, kan saat ini Peruri juga masih under capacity. Kita pun akan siap mengedarkan uang baru di 2012. Nanti uang lama ditarik secara perlahan-lahan," ungkapnya.

Ia menambahkan, wacana penyederhanaan nominal uang ini telah diperbincangan dengan BI sejak tahun 2009. Dan, lanjutnya, ide redenominasi bisa menggandakan permintaan cetak uang yang dipesan BI.

"Bisa naik dua kali lipat, dari yang saat ini under capacity," jelasnya.

Peruri pun tidak masalah, jika nantinya mencetak mata uang dengan nominal yang lebih kecil. Berbentuk uang kertas atau logam, Peruri sanggup menyediakan sesuai dengan order BI.

"Logam nggak masalah. Lagi pula nantinya, mata uang sen bisa juga dalam bentuk kertas juga kan. Sampai saat ini produksinya kita hanya 40% dari kapasitas. Untuk uang kertas kita bisa mencetak 7,2 miliar notes per lembar kertas," ucap Juniho.

BI memang berencana melakukan redenominasi rupiah karena uang pecahan Indonesia yang terbesar saat ini Rp 100.000. Uang rupiah tersebut mempunyai pecahan terbesar kedua di dunia, terbesar pertama adalah mata uang Vietnam yang mencetak 500.000 Dong. Namun tidak memperhitungkan negara Zimbabwe, negara tersebut pernah mencetak 100 miliar dolar Zimbabwe dalam satu lembar mata uang.

BI akan mulai melakukan sosialisasi redenominasi hingga 2012 dan dilanjutkan dengan masa transisi. Pada masa transisi digunakan dua rupiah, yakni memakai istilah rupiah lama dan rupiah hasil redenominasi yang disebut rupiah baru. BI menargetkan pada tahun 2022 proses redenominasi sudah tuntas.

Source : www.detik.com

Kamis, 05 Agustus 2010

Telat Ngantor, Pegawai Pajak Kena Sanksi Rp 400 Ribu

Jakarta - Pegawai Direktorat Jenderal Pajak akan kena potongan Rp 400 ribu dari tunjangan remunerasinya jika terlambat masuk kantor. Pegawai Pajak diwajibkan absen dengan sidik jari sebanyak 3 kali setiap hari.

Kepala Kantor Wilayah Ditjen Pajak Bali, Zulfikar Thahar menyatakan pegawai pajak tidak boleh terlambat, kecuali ada surat penugasan dari kantor. Setiap terlambat, lanjutnya, mereka akan dikenakan sanksi yaitu pemotongan remunerasinya sebesar Rp 400 ribu.

"Terlambat masuk jam 07.30, potong Rp 400 ribu per hari," tegasnya saat ditemui di sela Pertemuan Akuntansi se-ASEAN, Hotel Santika, Kuta, Bali, Kamis (5/8/2010).

Selain itu, Zulfikar menyatakan pihak Ditjen Pajak mewajibkan kepada para pegawai bagian pemeriksa untuk mengerjakan minimal 8 profil wajib pajak dalam sebulan. Di Bali, terdapat 8 Kantor Pelayanan Pajak (KPP) yang sampai saat ini sudah menyelesaikan sekitar 1.200 profil wajib pajak dari target 1.000 profil.

"Setiap KPP minimal 1.000, sekarang sudah 1.200 wajib pajak dibuat profilnya. Dengan begitu bisa mencakup 70% penerimaan di sana. Di kita ada 8 KPP madya yaitu Denpasar Timur, Barat, Badung Utara, Badung Selatan, Gianyar,Tabanan, dan Singaraja," ujarnya.

Dengan adanya kewajiban seperti itu, Zulfikar menyatakan tidak ada lagi pegawainya yang 'bermain-main' dalam bekerja. Apalagi dengan bantuan teknologi dengan program Multimedia Supercoridor dan Approweb.

"Di kantor saya, kita bisa lihat mereka melakukan apa saja dengan komputernya, apakah mereka buka link Luna Maya atau buka data wajib pajak, tapi tidak boleh buka data wajib pajak yang tidak di bawah pengawasannya. IP address-nya ketahuan," jelasnya.

Jika ketahuan macam-macam, Zulfikar menegaskan grade atau peringkat mereka akan diturunkan. Hal ini akan memengaruhi penerimaan remunerasi yang diterimanya.

"Kalau ketahuan, grade-nya kita kurangi. Kan mereka sudah punya indikator kinerja individual," pungkasnya.

Source : www.detik.com

Kisah Memelas dan Aneka Jurus Mengemis

Jakarta - Seorang ibu berjalan gontai membawa dua gelas air mineral di tepi Jl Raya Bogor, daerah Cijantung, Jakarta Timur. Wajahnya seperti kebingungan. Tangannya menuntun anak kecil yang tampak kucel. Dalam panas terik, keringat di wajahnya diseka dengan ujung kaos lengan panjangnya yang berwajah merah.

Mereka menghampiri setiap orang yang berada di pinggir jalan. "Tolong, Pak. Saya kehabisan uang. Kasihan anak saya nggak bisa jalan jauh," kata ibu itu memelas, Rabu (4/8/2010).

Si ibu yang mengaku bernama Ana itu, mengaku dari Leuwiliang, Bogor, hendak mencari saudaranya ke Kramat Jati. Dia butuh uang pinjaman untuk biaya sekolah anaknya. Namun di Jakarta, dia malah tersasar. Lalu, seorang pria yang merasa iba, memberikan uang Rp 10.000 untuk biaya si ibu pulang ke Bogor.

"Saya mau pulang, Pak. Uangnya buat naik angkutan," kata perempuan berusia sekitar 40-an tahun ini.

Uang sudah diberi, tapi si ibu terap menyusuri jalan. Padahal di Cijantung, berseliweran aneka kendaraan umum tujuan Bogor. Seorang tukang ojek pun menyeletuk, "Wah, jangan kaget, Mas. Sudah biasa itu. Kita tertipu semua," kata Dedi, tukang ojek.

Menurut Dedi, seminggu menjelang bulan puasa Ramadan, banyak pengemis berdatangan ke Jakarta termasuk di Cijantung. Mereka datang dari berbagai daerah di sekitar Jakarta bahkan Pantura, Jawa Barat. Oleh karena itu pada saat ini pun banyak razia gelandangan dan pengemis dilakukan Pemprov DKI Jakarta.

Para pengemis ini punya berbagai jurus untuk mendapatkan uang dengan mudah. Ada yang mengemis seperti biasa, mengaku kehabisan ongkos, atau pura-pura meminta sumbangan. Bahkan ada juga yang memakai bayi, untuk membangkitkan rasa iba.

Di daerah Fatmawati, Jakarta Selatan, detikcom menemukan Suni, perempuan paruh baya sekitar 50-an tahun. Setiap tahun dia datang dari Indramayu, Jawa Barat ke Jakarta untuk mengemis menjelang Ramadan. Tahun ini dia datang lebih awal, agar bisa menghapalkan wilayah.

"Ya saya setiap tahun ke Jakarta, abis ngga punya uang buat keluarga di kampung," yang ditemui tengah menyusuri Jalan Raya Fatmawati, Cilandak Barat, Jakarta Selatan.

Suni lebih mengandalkan gaya mengemis konvensional, dengan menghampiri semua orang atau rumah untuk mengharapkan belas kasihan warga. Suni mengaku menjalani hidup seperti ini justru demi membantu membiayai hidup keluarganya di kampung. Ada banyak kisah yang muncul di balik kehidupan gelandangan dan pengemis atau gepeng di Ibu Kota yang menjamur menjelang Lebaran.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, menjelang Lebaran bisa disebut masa panen bagi gelandangan dan pengemis (gepeng). Mereka menyesaki perempatan jalan. Jumlah gepeng yang begitu banyak memunculkan dugaan ada gepeng teroganisir. Umumnya para gepeng berasal dari wilayah Pantai Utara Jawa seperti Indramayu, Kuningan, Cirebon, Jawa Barat dan Brebes, dan Tegal, Jawa Tengah.

Selain itu, banyak pula yang datang dari wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Gepeng yang menjamur ini tak pelak meresahkan warga Jakarta. Pihak keamanan pun sering kewalahan menertibkan. Bahkan tidak jarang panti sosial, tempat penampungan sementara gepeng yang terjaring, penuh sesak.

Jakarta memang diakui masih menjadi magnet bagi para penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) ini. Bahkan pihak Satpol PP DKI Jakarta bertekad akan membersihkan gepeng serta manusia gerobak.

"Kita segera akan melakukan penertiban para PMKS dan juga manusia gerobak yang
marak beroperasi saat bulan puasa," kata Kepala Satpol PP Pemrprov DKI Jakarta,
Effendi Anas, kepada detikcom beberapa waktu lalu.

Satpol PP juga akan mencari tempat-tempat yang biasa dijadikan pemukiman sementara PMKS ketika menyambangi Jakarta di bulan Ramadan. "Kita sudah indetifikasi tempat para PMKS tersebut biasa tinggal di Jakarta selama bulan Ramadan. Kita juga akan lakukan penertiban ke penampungan mereka," ujar dia.

Effendi juga mengaku, akan memproses secara hukum bagi para pengemis yang kedapatan menyewa anak balita dalam operasinya. "Kebanyakan begitu, menurut informasi yang kita dapat, agar anak ini diam banyak yang dibius. Ini yang akan kita tindak tegas juga, terutama yang memanfaatkan anak-anak di bawah umur untuk bekerja sebagai pengemis," ancamnya.

Effendi juga mengakatakan, telah berkordinasi dengan panti sosial di Pemalang, Jawa Tengah dan Indramayu, Jawa Barat, karena selama ini banyak PMKS yang tertangkap dari daerah-daerah tersebut. Mereka juga akan fokus mencari para kordinator gepeng ini. "Kami menduga praktik maraknya PMKS pada bulan puasa ada yang mengkoordinir. Kita akan berikan sanksi yang lebih berat untuk para koordinator PMKS," kata mantan Walikota Jakarta Utara ini.

source : www.detiknews.com